Bagaimana Mekanisme Menabung Saham ? (Part 2)

Hello Ladies,

Setelah membahas mengenai saham dan cara membelinya, kali ini gue akan membahas tentang pertanyaan lain yang muncul setelah punya akun saham :

“Teknisnya gimana sih mbak, apakah tiap bulan saya harus membeli saham yang sama? bagaimana kalau saham yang saya beli harganya naik signifikan sedangkan budget saya tidak mengikuti kenaikan dari harga saham tersebut? Nah kalau saya mencoba beli saham yang berbeda – beda, nanti jumlah saham saya banyak donk?ngawasinnya kan ribet juga? berapa saham sih yang harus saya punya?”

Terkadang pertanyaan yang bikin ribet kita sendiri ini bikin kita ngga mulai mulai 😀 😀

Tapi kalau ngga ada yang kasih jawaban, yang ada malah akunnya sudah jadi tapi didiemin aja ngga ada transaksi, or worst diminta transfer duit 100rb aja sama sekuritasnya untuk aktivasi bisa delay berbulan – bulan *mewek* . Ok gue coba memberikan beberapa jawaban ya, lets see which one will work for you.

Sebelumnya, yang harus kamu lakukan agar disiplin menabung sahamnya adalah buat program auto transfer setiap bulannya dari Bank kamu ke sub rekening efek (biasa disebut rekening dana investor / rekening dana nasabah). Makanya disarankan agar menyamakan bank yang sudah kamu punya dengan bank untuk menampung dana kamu sebelum di belikan saham.

E.g. Saya punya Bank Mandiri, maka Bank RDI saya, akan saya buat Mandiri juga jadi setiap bulan saya tidak akan kena potongan karena melakukan transfer ke bank yang sama. (biasanya kamu diberikan beberapa pilihan bank oleh sekuritasnya untuk dijadikan rekening efek).

Set deh setiap tanggal setelah gajian langsung otomatis transfer ke RDI. Setelah dananya sampai di RDI dan kamu bisa lihat dananya masuk di apps / web platform punyanya sekuritas, baru deh decide mau dibelikan saham apa.

OK ! Now , teknisnya

Tentukan jumlah dana untuk di auto transfer ke RDI 

e.g. Kamu komit untuk menabung saham sebesar Rp.500.000,- setiap bulannya.

Cara Pertama 

Hanya membeli satu saham (emiten) dulu untuk satu tahun pertama

Contoh : Membeli saham ADRO (Adaro Energy) di bulan September 2016 – September 2017 (ps : ini hanya CONTOH dan bukan rekomendasi)

a. Harga Sept 2016 : Rp.1.200,-

Beli 4 lot = Rp.480rb

b. Harga Oct 2016 = Rp.1.525,-

Beli 3 lot saja = Rp.457.500,-

c. Harga Nov 2016 = Rp.1.640,-

Beli 4 lot = Rp.492.000,-

d. Harga April 2017 = Rp.1.840

Beli 3 lot = Rp.368.000,-

e. Harga Mei 2017 = Rp.1.485,-

Beli 3 lot = 445,500

f. Harga Sept 2017 = Rp.1.825,-

Beli 2 lot = Rp.365.000,-

Bisa dilihat kan harganya dalam waktu satu tahun bisa berubah naik turun. Yang kita sesuaikan disini adalah jumlah lotnya ketika budget kita hanya Rp.500rb. Di harga – harga tertentu, masih ada sisa Rp.100rb atau malah Rp.5rb , Biarin aja sisanya di taruh di cash, ini bisa nambah – nambah untuk bayar fee transaksi dll atau untuk nambah ketika harganya lumayan naiknya.

E.g di cash ada 100rb dari sisa-sisa beli saham, di bulan Januari 2018 harga menjadi Rp.1.900,- , kita bisa beli 3 lot = Rp.570rb dengan mengambil dana idle yang ada di cash untuk menutupi kekurangannya.

Kalau si saham naiknya signifikan banget dalam waktu singkat dan beli satu lot pun ngga cukup, pilihannya kita nambah dana lagi atau cari emiten lain yang sesuai budget.

Cara Kedua

Beli 2 saham yang berbeda dalam 1 tahun (sesuaikan budget, semakin besar budget pilihan emiten bisa lebih banyak, meskipun disarankan tetap di dalam jumlah yang kita mampu control).

Contoh : Beli Saham ADRO dan ACES (Ace Hardware)

a. Harga ACES Sept 2016 = Rp.870, dan Harga ADRO Sept 2016 = Rp.1.200,-

870 X 200 lembar (2 lot) = 174.000,-

1,200 X 200 lembar = 240.000,-

Total = Rp.414.000,-

b. Harga ACES Jan 2017 = Rp.760, dan Harga ADRO Jan 2017 = Rp.1.730

760 X 200 lembar = Rp.152.000,-

1,730 X 200 lembar = Rp.346.000,-

Total = Rp.498.000,- 

c, Harga ACES Sept 2017 = Rp.1,213, dan Harga ADRO Sept 2017 = Rp.1.825,-

1,213 X 200 lembar = Rp.242.600,-

1,825 X 100 lembar = 182,500.-

Total = Rp.425.100,-

Again, untuk cara kedua ini kita tinggal mainkan lot nya saja. Sahamnya  cukup dua dulu paling banyak. Nanti kalau budgetnya nambah, bisa optional untuk menambah emitennya lagi.

Cara Ketiga 

Ini adalah cara yang dipilih untuk orang – orang yang ngebet pengennya emiten tertentu saja , tetapi harganya ngga sesuai dengan budget bulanan.

Contoh : Inginnya membeli saham ICBP, karena cinta mati sama indomie

Harga Indomie saat ini Rp.8.775,- , budgetnya belum cukup, maka dana 500rb nya ditampung dulu di RDI , kemudian bulan depan ketiga gajian dan terkumpul dana Rp.1jt di RDI, baru di belikan saham ICBP nya

Rp.8.775 X 100 lembar (1 lot) = Rp.877.500,-

Jadi dananya ditampung dulu dan baru beli ketika sudah mencukupi

Konsekuensinya =

  1. Dananya nganggur di RDI lama, duitnya ga muter.Ini kalau beli saham ICBP, kalau maunya UNVR (Unilever), nunggunya bisa hampir setaon (harga UNVR sekarang 1 lotnya Rp.5.090.000,- (4/10/2017)
  2. Kalau naiknya signifikan banget, rencananya nabung bulan depan sudah bisa kebeli 1 lot, eh ternyata harus nabung satu bulan lagi. (ga ada yang bisa prediksi harga saham dengan akurat kan).

Cara Ke-empat

Ada sekuritas yang memiliki sistem nabung saham. Dimana di awal kita sudah menentukan jumlah dana yang disisihkan setiap bulannya dan saham apa yang ingin dibeli. Ketika dana sudah masuk ke RDI, sistem akan otomatis membelikan saham sesuai kesepakatan.

Ada juga tim riset dari sekuritas tersebut yang memberikan rekomendasi saham sesuai dengan budget kamu. Selama ada dana di RDI, mereka bisa melakukan pendebetan untuk  pembelian saham yang disarankan. Tetapi dana yang ini tidak di locked, jadi kamu bisa melakukan penjualan kapan saja. (Inget, kalau niatnya nabung, ngga usah main jual cepat).

Untuk cara ke-empat ini, i will find out more and will share with you guys soon.

Take note :

  1. Hitungan di atas belum termasuk fee transaksi,pajak,dll.
  2. Bukan untuk kamu yang trader / anak teknikal banget dan punya waktu untuk melihat pergerakan saham setiap saat.
  3. Cara di atas hanya untuk simplify kamu yang masih bingung teknis nabung di saham seperti apa.
  4. Apapun caranya, yang paling penting adalah kamu MULAI DULU,  jangan cuma dipikirin aja dan kebanyakan analisa malah ngga invest-invest. Belajar pelan – pelan yang penting konsisten.  Nanti juga nemu cara yang suitable untuk kamu.

Lots of Love,

Dini

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *