Duit Minim,Memang Bisa Beli Saham Bagus ????

“Berapa banyak modal yang harus saya siapkan untuk membeli saham?”

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan ketika lagi ngebawain topik mengenai saham.

Meskipun gaung tentang menabung saham sudah ada dimana – mana, dari lagu Yuk Nabung Saham yang sering di putar di radio, iklan di bioskop, tulisan – tulisan di online & printed media, edukasi melalui social media,talkshow/seminar, tetapi ternyata tetap saja pertanyaan tersebut muncul ketika lagi di lapangan.

Dini : Modal yang dibutuhkan untuk membuka akun saham saat ini hanya Rp.100.000,-
Peserta : ooooh kirain berjuta-juta.
Dini : Rp.100rb per bulan minimal sanggup kan ya nyisihin tiap bulan??
Peserta : Sanggupppppp

Kemudian ada satu peserta yang mengajukan pertanyaan ini :
Si A :Bisa beli saham apa mbak dengan Rp.100rb???saham gorengan ya?
Dini : Memang saham gorengan itu apa sih mas?
Si A : Ngga tau juga sih hehehe sering denger aja. Saham jelek deh pokoknya
Dini : ………

Benarkah ada saham yang bisa dibeli dengan modal Rp.100rb??Sebelum gue menjawab pertanyaan si mas A,gue mau kasih info dulu. Satuan yang digunakan untuk saham adalah LOT .

Minimum pembelian setiap satu saham (emiten) adalah 1 lot. Nah,kalau dulu 1 lot = 500 lembar saham, per 6 Januari 2014, BEI mengubah satuan harga saham menjadi 1 lot berisi 100 lembar.

Artinya ketika harga saham A = Rp.2500,-, maka dulu untuk membeli 1 lot, kamu butuh modal Rp.1.250.000 (Rp.2.500 X 500 lembar), setelah diubah, modal yang kamu perlukan hanya Rp.250.000 (Rp.2500 X 100 lembar). Menjadi sangat affordable bukan?

Tidak sampai disitu saja. Demi membuat masyarakat menjadi semakin melek investasi di saham selayaknya negara-negara maju, minimum pembukaan rekening saham pun dibuat menjadi luar biasa affordable. Makanya sekelas mahasiswa(i) pun bisa menabung saham. Dulu awal-awal gue kerja, minimum modal yang dibutuhkan untuk buka rekening saham itu Rp.5.000.000,- . Way before that malah sampai puluhan juta. Sekarang dengan modal Rp.100.000,- kamu sudah bisa punya rekening saham (RDI = Rekening Dana Investor) .

Saham apa yang bisa dibeli dengan Rp.100.000 ??? “saham – saham yang harganya di bawah Rp.1.000,-” . 

Saham yang bisa dibeli dengan Rp.500.000,-?? ” ya  berarti lebih banyak lagi pilihannya, yaitu semua saham – saham yang harganya di bawah Rp.5.000,-“

“Memang bagus saham-saham di bawah Rp.1000,- atau di bawah Rp.5.000,- ??? jangan-jangan dari perusahaan jelek semua”

Ketika gue mendapatkan pertanyaan seperti itu, gue coba menempatkan diri gue sebagai investor, regulator, dan pemilik perusahaan yang sahamnya listing di bursa (emiten) .

Sebagai regulator, gue pastinya ga akan dengan mudah meloloskan semua perusahaan untuk listing di Bursa. Ada policy/ketentuan/kebijakan/syarat yang harus dipenuhi perusahaan terlebih dahulu untuk go public. Udah jadi emiten aja kalau perusahaannya bandel, sahamnya bisa kena tegor, di suspend (dihentikan), didelisting (dikeluarkan) dan tindakan lainnya. Apalagi belum jadi emiten.

Sama kaya sebuah department store yang ingin memasukan sebuah brand . Pasti ada proses yang harus dilewati. Gimana – gimana ada image yang dipertaruhkan juga kalau sampai brand tersebut ternyata tidak sesuai dengan standar dan mengecewakan customer.

Sebagai pemilik perusahaan, menurut gue nih yahhh…mana mau gue kalau sampe perusahaan gue dibilang sahamnya gorengan. Aslik sumpah sedih banget gue. Bayangin aja ketemu temen trus temen gue bilang “eh Din, Jouska itu sahamnya gorengan banget ya”. Di pikir bangun perusahaan itu gampang, udah gitu ketika go public syarat yang harus dipenuhi dan proses yang dijalanin juga ga kaya ngebalikin telapak tangan doank. Udah berdarah – darah bangunnya, trus dibilang sahamnya gorengan. *mewek* . Kalau satu emiten kesannya gorengan banget, karena tiba-tiba naik drastis dan tidak wajar dalam waktu singkat, apakah itu entirely salah perusahaannya? itu kan ulahnya pelaku di market, para trader dan spekulan.

“Emitennya ikutan nakal tuh mbak kongkalikong buat naikin harga sahamnya” . Wah itu bukan ranah gue untuk ngejudge perusahaan. But I speak for myself, ketika gue decide untuk meng-IPO kan perusahaan gue, artinya gue akan membuat perusahaan gue berkontribusi untuk kesejahteraan orang banyak. Bukan itu aja, gue juga akan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (aksi untuk memaksimalkan nilai perusahaan dalam bentuk peningkatan kinerja dan citra perusahaan yang baik) karena perusahaan gue sudah go public.

Nah kalau sudah melakukan semua itu, sedih kan kalau dibilang saham perusahaan gue gorengan. Apalagi kalau gue perusahaan yang baru di listing di BEI dan harga sahamnya masih di bawah Rp.1000,- . Masa langsung di judge gorengan ?

Sebagai investor, daripada ujug-ujug langsung ngejudge sebuah saham itu jelek karena harganya murah. Gue akan cari tau dulu informasi mengenai perusahaannya.  Warren Buffett aja katanya seneng  beli saham yang undervalued, yaitu  saham-saham yang  masih belum banyak peminatnya, dan harganya masih RELATIF murah tapi potensinya gede.

Nah, cewek-cewek, prinsip kita belanja kan “kalau ada yang murah dengan kualitas yang bagus, why not!!” . Bisa diterapkan juga prinsip itu ketika beli saham. Bisa jadi sekarang designernya belum terkenal, storenya masih kecil makanya harganya masih affordable.

Emang designer – designer terkenal dulu bajunya langsung mahal ?? ketika orang udah ngeliat kualitas designnya, kreatifitas dan inovasinya, baru deh semakin banyak peminatnya, mereka pun mulai terkenal dan harganya jadi naik seiring demandnya juga naik. Tapi kalau dari awal ngelirik aja kita ogah, karena kesannya baju murah dari designer ga dikenal pasti kualitasnya jelek, ya susah. Coba dulu kita mau ngelirik, mau mempelajari detail dari kualitas barang dagangan si designer, jeli disaat orang lain memalingkan muka, ketika mereka sudah  mulai terkenal, kita bisa dengan bangga loh bilang “Gue mah, sudah koleksi bajunya si designer sebelum dia terkenal kali, telat lo pada”.

Mungkin it takes years for the world to see and appreciate, thats why being patience is the quality of a great investor. Investor di saham artinya kamu invest di sebuah bisnis kan. Kudu sabar tetapi juga tetap melakukan evaluasi  berkala untuk make sure the performance of the business or the quality of the product isn’t dropping. Bisa jadi sahamnya sekarang geraknya lambat, tapi sebenarnya perusahaannya getting better and better dan ada potensi growth yang luar biasa kedepannya.

Ini beberapa contoh emiten yang harganya di bawah Rp.1.000,- . Silahkan di cek sendiri perusahaanya seperti apa (Harga ini per 22 Sept 2017, bisa berubah di tanggal kamu baca artikel ini)

  1. SRIL (Sritex) perusahaan textil dan garment, pembuat baju militer di puluhan negara. Clientnya Timberland, Zara, dll = Rp.358,- ( 1 lot = Rp.38.500)
  2. WTON (Wijaya Karya Beton) perusahaan manufaktur dan distribusi alat – alat berat kontruksi. = Rp.570,- (1 lot = Rp.57.000)
  3. SIDO (Sido muncul) jamu = Rp.484,- (1 lot = Rp.48.400)

*Saham-saham di atas bukan rekomendasi, hanya contoh

*Harga saham belum termasuk biaya transaksi dll (relatif ngga gede lah)

Kalau budget kamu lebih dari Rp.100.000,- , lets say Rp.500rb, maka kamu bisa beli saham dengan harga di bawah Rp.5,000. Pilihannya akan lebih banyak lagi.

Masih ngga mau invest di saham ????? coba deh dari nominal kecil dulu if you are not confident enough. But you will thank yourself someday for doing it. And trust me kata – kata ini akan keluar dari mulut kamu  “Coba aja dulu gue naro nya lebih gede lagi ya, kebayang berapa duit gue sekarang” . Percayalah!! Even my friends and I still say this a lot.  “Coba kita cenayang ya, tau harganya bakal naek segini, pasti beli lebih banyak dah” . Sayang bukan turunan cenayang.

Ladies, pernah ngga ngalamin ketika kamu ingin mencoba sesuatu yang baru, ada saja orang – orang yang berusaha untuk mematahkan semangat dan confidence nya kamu ? mengatakan pilihan kamu salah, kamu akan menyesal di kemudian hari, and you should just stick with whatever you are doing and what you are good at.

Akan selalu ada saja omongan yang akan membuatmu takut berinvestasi di saham, terutama ketika ini merupakan suatu hal yang baru untuk kamu.

My advice ?

Katanya perempuan itu keponya tinggi, bisa ngalah-ngalahin FBI kalau pengen tau sesuatu, bisa menyelidiki banyak hal , sangat observant, dan instinct nya kuat. USE THAT QUALITY, WOMAN! untuk apa ?

  1. Sebelum memilih saham, maka gue akan spend waktu untuk kepo tentang perusahaan yang gue pilih. Kalau kamu punya waktu kepo ngeliatin hidup orang di social media, kamu punya waktu untuk ngecek perusahaan yang mau kamu beli. Ngga perlu yang njelimet-jelimet, dimulai dari buka website perusahaanya. Baca profilnya, produk-produknya, berita-berita tentang si perusahaan dll.
  2. Ngga mudah percaya dengan omongan orang dan rumor-rumor yang beredar. Kalau ada yang bilang saham itu beresiko tinggi? do background checking. Dia siapa? dia punya kepentingan apa ngomong seperti itu? dia “jualan” apa? dia punya pengalaman apa? whats his/her stories? maybe you could even learn from their mistakes.

In the next posting, i will discuss more about mekanisme nabung saham. For now, get your facts right! At the end of the day, yang namanya orang nabung, tetap akan lebih untung and way step ahead ketimbang orang yang ngga melakukan apa-apa.

Cheers!

Lots of Love,

Dini

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *