Nabung itu di Bank, Kalau di Saham, Invest Namanya! Yakin???

For the next few posts, i will be talking more about program Yuk Nabung Saham (YNS for short) .  Kalau dua post sebelumnya ngomongin tentang cara menabung saham dan review buku YNS, kali ini gue mau bercerita sedikit tentang program YNS ini.

Program YNS diresmikan oleh Wakil Presiden JK pada tanggal 12 November 2015. Yes I remembered vividly, because I was there to witness this program being launched.

Nabung Saham ???? Kenapa katanya Nabung ? Kenapa ngga Invest ?? Thats exactly what I was thinking, so was a lot of people. Di industri financial planning pun, kita diajarkan untuk membedakan antara menabung dan investasi.

Yang namanya menabung = saving = menyimpan, sedangkan

investasi = investment = To grow money

I even wrote that in few articles before about the differences. But when I first heard about the program, I kept my mind open about it, there should be an explanation why they use “Nabung” and not “Invest” . I mean, come on! Those people who created the program have been in the industry for many years, for sure they understand the differences, but why they decided to use the term Nabung? thats what we should find out.

Ketika mendengar kata Investasi, tidak sedikit masyarakat yang merasa terintimidasi. Asumsi mengenai investasi di kepala orang bermacam – macam tapi sadly kebanyakan bukanlah suatu hal yang positive. Ntah karena pemberitaan selama ini banyak yang kurang baik mengenai investasi atau karena simply asumsi bahwa investment is just a topic that not everyone qualified to talk about.

Menabung adalah kata yang lebih dekat dengan masyarakat sedari kita masih kecil. Dari petuah orang tua, lagu sampai peribahasa – peribahasa, banyak yang memberikan ajakan untuk menabung.

Dua peribahasa yang sangat lekat dengan kita tentang menabung adalah :

  1. Hemat Pangkal Kaya
  2. Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit.

Hmm lets talk about these two proverbs. Hemat pangkal kaya artinya ketika kita memastikan pengeluaran kita tidak melebihi penghasilan kita, maka ada porsion yang bisa di tabung. Bener? dan ketika kita bisa menabung secara rutin maka sedikit demi sedikit lama – lama tabungan kita pun semakin banyak, atau seperti kata peribahasa akan menjadi seperti bukit.

Nah, ketika kita masih berpikir bahwa menabung itu harus di bank saja atau worst di celengan (safe deposit di rumah lah lebih kerennya) , maka apakah benar kita akan menjadi KAYA dan duit kita lama lama menjadi BUKIT ??

Gue ngga tau kamu hidup dimana jika kamu tidak pernah mengenal yang namanya INFLASI. Uang kita tidak akan pernah menjadi bukit ketika value dari uang yang dengan susah payah kita kumpulkan terus menurun seiring berjalannya waktu.

Contoh mudahnya, di 2017 kamu commit untuk mulai menabung di bank setiap bulannya sebesar Rp.1.000.000,- selama 10 tahun ke depan. Dengan asumsi menabung tidak menerima bunga sama sekali karena terlalu kecil dan sudah kemakan biaya admin dan lain – lain, berarti uang yang akan terkumpul sekitar Rp.120jt. (Naro di deposito pun sekarang, bunga yang dijamin LPS hanya 4.5% GROSS, ga jamin someday malah lebih kecil daripada itu kan?).

Menurut data BI saat ini, inflasi di Indonesia sekitar 4% , artinya nilai Rp.120jt tersebut, 10 tahun lagi sama artinya dengan Rp.81jt saat ini. (Ini menggunakan rumus depresiasi/penurunan nilai uang). Inflasi 4% itu adalah inflasi rata-rata SAAT INI dan diambil dari berbagai wilayah di Indonesia loh yah. Face it! realitanya buat kita-kita terutama yang di kota besar, mana ada inflasi 4% , yang ada malah berkali-kali lipat.  120jt saat ini bisa beli Toyota Agya LUNAS, 10 tahun lagi bisa jadi 120jt itu hanya untuk DP nya saja.

Back to Dictionary. Gue baru tau setelah baca penjelasan dari pihak BEI mengenai definisi Menabung dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “memasukan uang di celengan, pos, bank dan sebagainya”. Kata sebagainya ini bisa diartikan cakupan yang lebih luas lagi.

Meaning? Bisa di pasar modal juga donk. Maka ketika kita menabung di pasar modal dua peribahasa yang sering kita dengar tersebut bisa menjadi relevant and it will be possible to become a reality. Karena performa pasar modal terutama saham outperform CUKUP signifikan melawan kenaikan inflasi di Indonesia dalam jangka panjang.

Maka secara bahasa tidak salah menggunakan kata NABUNG SAHAM dalam slogan regulator.

“Tapi kan nabung saham bisa rugi?”

“Gimana milih sahamnya kalau ngga ada yang dampingi?”

“Kalau tiba – tiba krisis gimana???uang yang kita tabung lenyap donk”

Gue dan temen – temen di Jouska selalu gemess sama opini opini yang tidak pernah berdasarkan data dan fakta. Hanya berdasarkan kata si A, kata si B, kata si D . Percayalah orang yang ngomong rugi itu selalu lebih kencang dan lebih pamer daripada orang yang untung banyak. Makanya kita lebih sering mendengarkan opini yang menakutkan daripada yang menyenangkan.

I will discuss more about it in the next few posting. But in the meantime, buat kalian yang belum berinvestasi di saham, belajar dulu yuk. Kenalan dulu karena bisa jadi opini yang kalian dengar itu tidak sepenuhnya benar. Buat kamu yang sudah berinvestasi dan lagi merasakan atau pernah merasakan rugi trus kapok, coba take a step back dan evaluasi ulang kesalahan yang kamu buat, kenapa bisa rugi? apa kamu yang panik sehingga jual rugi? padahal niatnya invest jangka panjang? atau kamu terlalu termakan berita yang aneh-aneh tentang saham yang kamu punya sehingga menurunkan confident kamu untuk hold it longer?

Kalau memang jadi investor itu merugikan, kenapa ya banyak orang-orang sukses dan berduit investnya di saham???hmmm THINK! Dan sudah pernahkah kamu melihat graphic IHSG dari tahun ke tahun. Coba cek IHSG pada tahun – tahun ketika ada krisis kemudian post crisis hingga sekarang. What does it tell you ?

Lots of Love,

Dini

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *