Benarkah Hanya 1% Masyarakat Indonesia Bisa Pensiun Sejahtera ???

Waktu kamu pertama kali kerja, mikirin pensiun kayanya masih jauhhh bangeeeet. Masih euphoria dapat penghasilan sendiri bikin kamu lebih memilih ngabisin penghasilan pada tahun – tahun pertama kerja untuk melakukan pengeluaran yang sifatnya konsumtif, ya belanja baju lah, beli gadget keluaran terbaru, liburan, nongkrong di tempat paling happening in town, dst. Kamu mikirnya investasi mah nanti nanti aja juga bisa dan kamu begitu yakin bisa mengejar ketinggalan tersebut seiring dengan semakin besarnya penghasilan suatu saat nanti.

Kemudian kamu masuk di phase usia – usia akan menikah. Mulai deh tuh nyiapin dana pernikahan (ya syukur-syukur ye kalau di support orang tua) . Nah, karena menurut kamu wedding day adalah hari yang paling bersejarah dan ngga akan terlupakan seumur hidup (dan maunya pasti cuma sekali wedding doank kan for the rest of your life), maka kamu ngga terlalu ngepeduliin berapa tabungan yang akan terkuras, karena ini adalah hari spesial kamu. Jangankan mikirin dana pensiun, tabungan saja kamu minim. Tapi kamu ngga kuatir karena kamu yakin bakalan bisa catch up seiring dengan naiknya posisi jabatan kamu di kantor. “Ah nanti ketika jabatan dan gaji gue naik, gue janji bakal nabung lebih banyak lagi deh” itu pikirmu.

Abis nikah, kamupun mulai beradaptasi dengan pasangan mengenai pengaturan keuangan bersama. Baru deh kamu nyadar ternyata pengeluaran semakin membesar. Ada aja keperluan untuk ini itu yang kamu dan pasangan merasa urgent. Belum lagi ketika hadirnya bocah – bocah kecil dalam hidupmu. Maka kamu pun membuat alasan untuk menunda investasi pensiun. “Dana pendidikan untuk anak – anak besar, cicilan rumah dan mobil masih lama lagi lunasnya” itu katamu.

Kemudian tanpa terasa tahun berganti tahun, anak – anak mulai tumbuh dewasa , dan kamu pun mulai mendekati masa pensiun. Kamu pun menengangkan diri dengan mengatakan “ngga papa, masih ada pensiun dari kantor, anak -anak pun pasti masih akan support”. ujarmu

Masa pensiun pun tiba dan kamu mulai menerima dana pensiun dari kantor. Disitulah kamu baru nyadar bahwa dana pensiun dari kantor ternyata oh ternyata ga mencukupi gaya hidup kamu. Kamu pun mulai berpikir “ Dooooh,andai aja kemarin – kemarin gue nyiapin dana pensiun” .

Tapi nasi sudah menjadi bubur, selama masa produktif, kamu lebih memilih untuk memberikan alasan-alasan untuk menunda investasi pensiun. Liburan berkali – kali dalam setahun terasa lebih menyenangkan untuk dilakukan daripada menyisihkan sedikit saja untuk dana pensiun. Rajin nongkrong di coffee shop , merokok menghabiskan berbungkus – bungkus, menyenangkan anak dengan membelikan apa saja yang diinginkan, membeli baju-baju yang mengikuti trend terbaru, semua terasa begitu menyenangkan daripada menyisihkan dana pensiun. (ya memang bener sih)

 Departemen Ketenagakerjaan memberikan survei kisah para pensiunan di Indonesia saat ini, yang mana katanya:

1% hidup bahagia dan sejahtera

4% hanya punya cukup uang untuk hidup

5% tidak punya pilihan selain bekerja di usia 65 tahun

54% hidup di bawah garis kemiskinan. Bergantung pada dana pensiun dari pemerintah ataupun dari kantor dan masih menggantungkan hidup dengan orang terdekat

36% meninggal

Kalau kamu ga nyisihin penghasilan kamu seberapapun itu dengan alasan masih banyaknya pengeluaran lain – lain, maka kalau kamu beruntung kamu bisa menjadi 4% yang masih punya uang cukup untuk hidup, atau maybeee kamu bisa menjadi 5% yang masih harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan worst case, kamu masuk kategori 54%  orang yang di bawah garis kemiskinan.

Aim for that 1% (kalau yang 36% itu urusan sama yang di atas ya) !

Siapin deh tuh dana pensiunmu dari sekarang. Bukan masalah nominalnya ,tapi komitmen kamu dalam berinvestasi demi pensiun yang nyaman dan tidak menyusahkan orang-orang di sekitarmu.

Gue punya loh client, yang minta diitungin biaya masuk untuk masuk panti jompo ketika dia tua nanti.

Eiiiitsss jangan diketawain kakakkkk..Panti jompo yang dipilih yang kelasnya kaya nginep di hotel berbintang 5. Gue, kalau jadi cucunya doi pasti rajin kesana. hahahahah canda deng.

Yuk ah invest! dimulai sedikit demi sedikit dan tambahin lagi nominalnya ketika gaji kamu naek (jangan pengeluaran konsumtif aja yang dinaikin)

Happy Investing!

Lots of Love,

 Dini

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *