Inkas
FinView
5 Hal yang harus diperhatikan sebelum Berhenti Kerja!

Hello ladies,

Hari ini gw mau ngebahas tentang hal – hal yang harus diperhatikan secara finansial jika lo memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang sekarang atau  terpaksa berhenti bekerja akibat perusahaan lagi downsizing.

Sebelumnya gw mau cerita dulu nih. Bulan Februari lalu kantor gw di hire sebuah perusahaan untuk nge-check up keuangan para karyawan – karyawannya yang ditawarkan paket untuk berhenti bekerja.

Rata – rata dari semua karyawan yang kita check up, patternnya kurang lebih sama, yaitu

Either cashnya kebanyakan atau propertinya yang kebanyakan. Sedangkan aset investasi berupa paper asset (reksadana,saham,obligasi) tidak ada atau minim.

Banyak yang masih mengambil soft loan dari kantor atau KPR dari bank.

Hidupnya memang selama ini didedikasikan untuk bekerja jadi tidak kepikiran untuk mencari sumber income yang lain. Kalaupun ada, rata – rata invest di properti untuk disewakan atau dijadikan kost – kost an. Itu pun tidak semuanya full tersewakan.

Asuransi full semua dari kantor. Kalaupun ada asuransi diluar kantor, biasanya juga tidak aware asuransi apa yang sudah dibeli. Rata – rata beli karena ditawarin teman/kerabat. Ditanya berapa jumlah uang pertanggungan, jawabnya ngga tau.

So what can you learn from this case ?

Dana cash itu penting! tetapi jangan terlalu banyak juga. Jika terlalu banyak, uang kita tidak akan berkembang secara optimal. Seberapa besarnya tergantung berapa banyak dana darurat yang kita butuhkan dan juga apakah ada tujuan jangka pendek (di bawah 2 tahun).

Contoh : Satu keluarga isi 4 orang. Untuk memudahkan hitung per kepala dibutuhkan 3 bulan pengeluaran jadi total satu keluarga 12 bulan pengeluaran.

Jika pengeluaran per bulannya Rp.10jt, maka dana darurat yang dibutuhkan at least ada Rp.120.000.000,-

Jika ada kebutuhan dana pendidikan anak jangka pendek (e.g.bayar uang pangkal) = Rp.50.000.000,- juga masuk ke dalam dana cash (masuk ke tabungan atau deposito)

So total – total dana cash yang harus ada adalah Rp.170jt. Jika belum terkumpul bisa disisihkan dulu setiap bulannya.

*note: tiap orang casenya bisa beda-beda dan customized, contoh hanya untuk memudahkan*

Dana darurat ini harus ada sebelum berhenti kerja/terpaksa berhenti bekerja. Take time kan cari kerja, kalaupun sudah ada back up,tetap harus jaga – jaga . Oh ya jangan karena lo ga ada dana darurat, ntar semua tawaran kerjaan apapun jadi lo terima aja karena BU.

Fasilitas perlindungan

Ada kantor yang memberikan fasilitas, jika terjadi resiko meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan akan diberi sejumlah berapa kali gaji terakhir karyawan (contoh : 10x gaji terakhir). Ini semacam asuransi jiwanya lah. Tetapi liat terms and condi nya loh kalau ada tulisan hanya keluar dananya jika terjadi resiko yang disebabkan oleh PEKERJAAN atau selama jam BEKERJA, maka kalau kejadian diluar pekerjaan atau jam kerja, bisa jadi ngga keluar. So, siapkan sendiri ya, mana kita pernah tau kan terjadi resikonya karena apa.

Asuransi kesehatan juga biasanya disediain kan dari kantor. Nah kalau berhenti bekerja, otomatis semua fasilitas sudah tidak diterima lagi. Makanya sebelum berhenti, beli sendiri asuransi jiwa dan kesehatan.

Fasilitas Kredit dari Kantor/Institusi Keuangan

Soft loan dari kantor memang menggiurkan. Lo bisa nyicil dengan bunga 0%

Tetapi kalau berhenti bekerja otomatis harus dipindahkan ke KPR atau dilunasi jika uangnya ada. Troublesome kalau misalnya kita dapat duit pesangon yang sama dengan sisa KPR kita, habis deh uang pesangonnya. Trus kalau mau pindah ke KPR, pastiin dulu pekerjaan yang baru mampu untuk membayar cicilan bulanan kita.

Kalau dapat pesangon/uang paket/semacamnya, lunasin dulu utang – utang konsumtifnya jadi ga memberatkan cashflow. Jangan  malah beli barang konsumtif lagi.

Jika ada yang perlu di refinance atau debt restructure, do it!Apapun yang dapat meringankan bulanan anda.

Investasi itu harus di diversifikasi.

Jangan mentang – mentang doyannya properti, semuanya di properti. Atau jangan karena pernah merasakan kenaikan emas yang sampe 30% terus jadi menutup mata terhadap jenis investasi lainnya.

Properti tetap layak dikoleksi untuk mendapatkan passive income, tetapi kita juga harus punya yang liquid donk. Yang kalau mau cairkan tinggal nunggu beberapa hari saja.

“Takut ah kalau ke saham/reksadana”

Ya di sesuaikan dengan jangka waktu. Kalau jangka menengah bisa ke obligasi, jangka panjang ya ke saham.

Ngga ngerti??? Belajaaaar!!! jangan karena ga mau belajar, kalian kehilangan waktu dan kesempatan mendapatkan return / imbal hasil yang baik.

Beberapa kantor nyediain yang namanya saving plan, DPLK, dan semacamnya. Harus punya juga diluar itu, yang kita sendiri beli. Jangan keenakan bilang ” kan sudah invest Din, wong dipotong kok tiap bulan sama kantor untuk dana pensiun/dana tabungan di kantor”

Invest in yourself!

Gunakan waktu kita untuk invest in ourselves. Sibuk kerja jangan dijadikan alasan untuk kita buat berhenti belajar. Baca buku harus disempatin, ikut seminar – seminar / kelas / datang ke talkshow / pameran – pameran. Mau yang gratis, mau yang bayar mah udah banyak. Tinggal pilih.

Make the time, before you regret.

Lots of Love,

Dini

Farah Dini
An Independent financial advisor who loves to help other people in achieving their goals. In love with financial planning world and have a goal to share the beauty of investing money for the future.
posts 136
words/post 683
media 295
comments 209
visits 143054

Leave a Comment

Name*
Email*
Website