Overconfidence = Poor Financial Decision

Don’t Fall in Love with an Investment. It doesn’t know who you are

and it doesn’t love you back – Ric Edelman

Ngga investasi itu salah, tapi overconfidence di satu produk investasi is not the right move juga.

Banyaaak banget gw ketemu orang yang terlalu overconfidence sama satu instrumen investasi aja Ada ibunya temen gw yang di mindsetnya property is the best investment in the whole wide world. No other type of investment can do well beside property. Ngga aneh jika si ibu beranggapan demikian, karena beliau ngerasain sendiri beli tanah berpuluh tahun yang lalu dan bkenaikannya bisa beribu – ribu persen.

However, yang namanya instrumen investasi pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Ketika si Ibu tiba – tiba butuh dana besar dan cepat, property yang dimiliki tidak dapat dijual dengan cepat, kalaupun harus cepat mau ga mau harus di bawah pasar (walaupun jatuhnya sudah untung ya kalau belinya dari berpuluh tahun yang lalu) . Kemudian masalah datang lagi ketika ada urusan dengan pembagian harta warisan. Pasti pernah dengar kan ada bangunan/ tanah bermasalah, akhirnya ga dibangun apa – apa. Tanah tersebut bermasalah karena ada pertengkaran antar saudara untuk masalah pembagian harta. Pajak hibah/pajak warisan properti juga lumayan tuh bayarnya. Harus ngitung BPHTB jika pewaris pemilik hak tunggal atas tanah dan bangunan  atau jika objek warisan milik bersama.

Trus property ngga disarankan? siapaaa bilanggggg….harus punya juga mah properti as an investment. Kalau ngga punya sekarang, ya paling ngga goal kedepan harus ada juga properti untuk investasi. Dari properti bisa dapat capital gain kan sama passive income jika properti tersebut disewakan.

Ada lagi yang mindsetnya Logam Mulia is the best investment. Udah dari jaman nenek moyang pasti deh investasi nya emas . Ga mungkin lah turun bla bla bla.Pokoknya paling aman logam mulia deh. Coba ya lihat pergerakan harga emas dari 1980 sampai sekarang. Bandingkan juga sama instrumen investasi lain , you’ll notice something.

Trus jangan invest di LM ? ya ngga lahhhh . LM juga bisa untuk dana darurat atau tujuan jangka pendek lainnya. Maksa untuk tujuan jangka panjang? ya terserah juga , kan pertanyaannya selalu ” bisa ngalahin inflasi tujuan keuangannya ga?”

Ada juga yang addict di saham. Pokoknya apa – apa di saham. Mau nikah tahun depan juga investnya di saham. Tau – tau drop kaya sekarang, masa ga jadi nikah??

Serem donk di saham??? serem kalau kita ngga belajar gimana cara memilih saham yang fundamentalnya bagus dan didukung dengan analisa teknikal yang cermat. Serem juga kalau lo tipe profil konservatif trus maunya dapat untung waktu singkat.  Kl mindsetnya trader, udah jago berarti baca chart dan paham fundamental perusahaan sebelum beli. Kl mindsetnya investor, ya udah diemin aja put and sleep yang penting milih saham  yg fundamentalnya bagus.

Another investor mikirnya the best investment ya sudah pasti di bisnis. Memang bisnis bagus banget kalau kita punya, bisa ngasih penghasilan dan kalau someday sudah di sistemasi dengan benar, kita bisa control dari jarak jauh dan ga dipantengin mulu kaya di awal. Tapi ingat bisnis juga punya resiko dan perlu proses untuk menjadi established. Masih baru dibisnis, terus naro semua duitnya ke bisnis padahal untuk dana pendidikan anak seharusnya. Lah ntar anaknya masuk sekolah, gimana? bisnisnya diharapkan kasih pendapatan yang menutupin dana pendidikan anak, kl yakin bisa mah silahkan, tapi inget  bisnis juga ada resiko apalgi yang masih baru – baru dan jangan gabungin tujuan keuangan bisnis dengan tujuan keuangan personal.

So intinya adalah diversifikasi portfolio sesuai dengan tujuan dan jangka waktu yang ingin dicapai dan dont fall in love only in ONE instrument aja.

Imagine this :

Lo pensiun, terus sudah punya diversifikasi aset. Ada bisnis, ada paper asset (reksadana ,saham,obligasi), ada properti, ada komoditas .

Bisnis nya kasih penghasilan bulanan untuk biaya hidup

Paper asset bisa dicairkan untuk tambahan biaya hidup sama manjain cucu. Dividend dari saham bisa dijadiin passive income tahunan, kupon obligasi bulanan bisa buat biaya entertainment.

Properti yang disewakan bisa kasih penghasilan bulanan/tahunan juga untuk dana liburan.

Komoditas bisa dijual kalau memang perlu .

Kalau lagi krisis, at least satu asset bisa compensate untuk aset lainnya yang lagi mengalami penurunan.

Enak kan ya hidup kalau gitu? tapi untuk menuju enak ya mau lah belajar belajar dulu dari sekarang, mulai bangun asset secara disiplin dan komit.

One step at a time. Sekarang mampunya beli reksadana dulu, ya gak papa. Nanti kan tiap tahun bisa diupgrade sesuai kemampuan dan juga ilmu keuangan yang semakin bertambah. Thirst for knowledge is a must, but most importantly dare to take action!

Lets together we achieve financial freedom

Mwah

Lots of Love,

Dini

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

One Comment on “Overconfidence = Poor Financial Decision”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *