Mengajukan KPR (Agar di Approve)

Helloooooooooooo ladies and gentlemannnnnnnnn…

Hahaha apparently yang baca blog maupun buku ngga cuma kaum hawa aja tapi juga kaum adam.

Malah kemaren gw diprotes karena bikin buku cuma untuk cewek doank trus bukunya pinky – pinky gitu lagi jadi mereka malu juga bawa bukunya kemana mana hahahhaha…Maapkeunn! Janji deh ntar bikin buku untuk cewek cowok juga :*

Anyway hari ini gw mau ngebahas tentang KPR. Gimana sih caranya agar KPR bisa di approve sama bank?

First thing first, apa sih KPR itu?

KPR atau Kredit Pemilikan Rumah adalah salah satu jenis pinjaman dari bank dimana nasabah dapat terbantu untuk melakukan pembelian rumah tanpa harus menunggu seluruh dana terkumpul secara tunai. Biasanya nasabah hanya perlu mengumpulkan dana down payment sebesar 30% dari harga rumah (untuk rumah pertama) dan biaya – biaya yang terkandung di dalamnya untuk melakukan proses KPR. KPR ada jaminan/agunan berupa rumah yang kamu ingin beli tersebut.

Semua orang dapat mengajukan KPR tetapi tidak semua dapat dengan mudah di approve oleh bank. Ada beberapa persyaratan penting dalam pengajuan KPR agar disetujui, yaitu :

1. Kamu adalah warga negara asli Indonesia.

Untuk karyawan, syarat yang diperlukan adalah mengisi formulir aplikasi pengajuan KPR dengan tandatangan pemohon dan pasangan, Copy KTP pemohon dan pasangan (istri/suami), Copy surat nikah/cerai, Copy kartu keluarga, Copy rekening koran / tabungan 3 bulan terakhir , Copy NPWP,asli slip gaji terakhir/surat keterangan penghasilan dan surat keterangan jabatan serta copy dokumen kepemilikan agunan : SHM/SHGB,IMB dan PBB. Apabila rumah tersebut masih dalam pembangunan dan belum tanda tangan akte PPJB, maka sediakan surat pesanan rumah dari developer.2. Kelengkapan dokumen berdasarkan profesi

Apabila karyawan menyediakan slip gaji, maka professional harus menyediakan informasi keuangan terakhir dan copy ijin praktek profesi. Untuk para freelancer yang tidak memiliki ijin khusus, dikarenakan profesi yang dijalankan masih terbilang unik dan baru di Indonesia, maka yang harus disediakan adalah kontrak – kontrak kerja dengan para client yang mempekerjakan, bukti pembayaran setoran pajak dan mutasi rekening 6 bulan hingga 1 tahun terakhir.

Untuk wiraswasta, tambahan dokumen yang diperlukan adalah copy neraca laba rugi , copy akte pendirian perusahaan dan ijin -ijin usaha.

Masa kerja/usaha masing – masing profesi juga akan dilihat. Biasanya untuk karyawan, bank akan meminta bukti sudah berapa tahun bekerja di perusahaan tersebut. Apabila belum satu tahun, maka harus ada bukti surat kerja dari perusahaan sebelumnya dan juga bukti penawaran di tempat kerja yang baru. Apabila di kantor yang baru kamu sempat mengalami masa probation, maka siapkan surat pengangkatan kamu menjadi pegawai tetap. Untuk professional dan wiraswasta, paling tidak masa usaha kamu minimum sudah dua tahun.

2. Pengajuan untuk BI Checking

Mengisi surat form pernyataan yang menyatakan bahwa pembelian rumah tersebut dengan sepengetahuan istri,dan apabila kamu memiliki perjanjian pre-neup maka wajib mencantumkan surat perjanjian tersebut.

Apabila ini pembelian rumah pertama, maka lebih mudah karena tidak ada track record kamu masih menyicil utang KPR lainnya, ketika kamu masih memiliki utang KPR juga, maka selain pengajuan DP untuk rumah kedua akan lebih besar dari rumah pertama, kemampuan kamu membayar cicilan juga akan dipertimbangkan.

Untuk BI checking, track record pembayaran utang kamu selama ini menjadi faktor penting. Cara paling mudah mengeceknya adalah dengan melihat pembayaran tagihan kartu kredit kamu. Ketika kamu lancar dalam pembayaran, tidak pernah nunggak maka resiko gagal BI checking lebih rendah. Bagi kamu yang tidak merasa pernah berutang, malah tidak punya kartu kredit sama sekali atau jenis pinjaman lainnya, jangan mengira akan lebih mudah. Dengan tidak ada record mengenai pembayaran cicilan utang, BI tidak dapat memastikan apakah kamu beresiko atau tidak . Ini dapat menghambat kamu juga untuk mengajukan pinjaman.

3. Cek kemampuan pembayaran

Bank akan melihat penghasilan serta cicilan utang yang sudah ada sekarang. Bank hanya mengijinkan total cicilan berkisar 30% – 35% dari penghasilan. Kamu pribadi harus mengecek kemampuan membayar sebelum mengajukan KPR. Untuk memperkecil cicilan, kamu bisa memperbesar jumlah Down Payment dan juga memperpanjang tenor pinjaman.  Bagi penghasilan tidak tetap, maka perhitungkan penghasilan rata – rata dan bukan penghasilan tertinggi yang kamu dapat.

Untuk usia masuk aplikasi KPR adalah minimum 21 tahun dan pada saat kredit berakhir maksimal usia 55 tahun untuk pegawai dan maksimal 60 tahun untuk profesional/wiraswasta

4. Cek bank apa saja yang bekerja sama dengan developer

Apabila rumah yang ingin kamu beli masih baru dan belum memiliki sertifikat SHM/SHGB, maka hanya bank yang sudah melakukan MOU dengan developer yang menerima aplikasi kamu. Developer biasanya memberikan informasi bank – bank yang sudah menjadi rekanan.

Jadi meskipun ada tawaran promo KPR yang lebih menggiurkan disuatu bank,kamu harus cek apakah bank tersebut sudah memiliki kerjasama dengan developer kamu atau belum.

Ketika semua persyaratan tersebut kamu sudah penuhi dengan baik, maka pengajuan aplikasi KPR akan lebih mudah. Siapkan semua dokumen yang dibutuhkan segera agar proses pengajuan menjadi lebih cepat.

Di setiap bank kebijakan bisa berbeda – beda, jadi sebelum kamu mengajukan aplikasi, tanya aja terlebih dahulu persyaratan yang dibutuhkan.

Selamat Memiliki Aset!

Lots of Love,

Dini

Note : Article gw ini pernah dimuat di KONTAN

Follow, Like and Share The Post

About Farah Dini

I'm a Co-Founder and Vice-CEO of JOUSKA, an Independent Financial Advisory Firm based in Jakarta. I'm also an author and a financial writer contributors at several media.

View all posts by Farah Dini →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *