Inkas
FinVest
3 Cara Berinvestasi di Reksadana

Dear readers,

Bagaimana kabarnya?nggak kerasa bentar lagi kita sudah say goodbye sama 2012 and welcoming the new year 2013.

Anyway, Happy Islamic New Year 1434 H! Hope you all the moslem out there have a happy and prosperous life ahead 🙂

Hari ini gw akan ngebahas 3 cara berinvestasi di reksadana. Mungkin ada cara- cara lain yang biasa digunakan investor, tapi ini adalah 3 cara yang  lumayan sering digunakan

Kita bahas satu – satu yuk…

Dollar cost averaging (DCA) : Strategi dimana para investor menanamkan modalnya dengan jumlah yang sama dalam interval waktu yang sudah ditentukan.

contoh : Ibu Anggi memutuskan untuk berinvestasi sebesar Rp.500.000,- di reksadana saham setiap bulan dalam jangka waktu 10 tahun untuk tujuan kuliah anak pertama.

Kelebihan dari DCA adalah simple, bisa otomatis (melalui program autodebet di agen penjual reksadana) dan investor tidak perlu aktif ngecek pergerakan reksadana secara rutin. Asal sudah memilih produk RD yang tepat dengan good historical track record, investor tinggal merem aja.

Kekurangan dari DCA adalah “mengorbankan” profit yang bisa dimaksimumkan demi kemudahan dalam berinvestasi. Maksudnya mengorbankan apa? lihat penjelasan tentang value cost averaging dan bandingkan dengan sistem DCA ini.

DCA biasanya dipilih oleh individu yang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya.

Value Cost Averaging (VCA) : Strategi dimana investor menanamkan modalnya dalam jumlah yang lebih banyak pada saat harga lagi turun dan jumlah yang lebih sedikit pada saat harga lagi naik.

Market timer donk Din?nggak kok! emang sih kesannya kita harus memprediksi kenaikan dan penurunan IHSG. Tapi kita kan bukan trader, trader profesional juga ga mau ngelawan market kok, mereka sudah melakukan teknikal analisis untuk menentukan harga kapan mereka harus jual , beli ataupun cut loss.

Kalau di reksadana lebih seperti ini : Investor ngecek secara harian / mingguan , kapan waktu – waktu yang dirasa tepat untuk berinvestasi lebih di reksadana. Mungkin pada minggu itu rd lagi turun karena banyaknya pemberitaan negative. Boleh deh itu beli, apalagi kalau dibandingkan dengan minggu sebelumnya, minggu ini lebih rendah harganya.

Intinya sih jangan jadi market timer. TETAP RUTIN berinvestasi pada interval waktu yang sudah ditentukan. Kalau komitmentnya secara bulanan atau per 3 bulan, ya udah invest tetap di waktu tersebut. Cuma di banding investor DCA, investor VCA harus lebih aktif melihat pergerakan reksadananya untuk menentukan harus beli dengan jumlah yang lebih banyak atau lebih sedikit.

Ada nih kejadian dimana orang berinvestasi di reksadana bener – bener nunggu harga turun, eh ga turun – turun malah keburu duitnya dipake buat yang lain . Strategi ini bkn berarti bener2 nunggu harga terendah bgt.Ya plg ga lbh rendah dr pergerakan kmrn2nya.

VCA ini bisa digunakan untuk yang memiliki penghasilan tidak tetap. Bukan karena mau ngeliat harga tinggi rendahnya tapi karena penghasilan yang fluktuatif.

Contoh : Ibu Nita adalah seorang freelancer . Beliau sudah melakukan perhitungan kebutuhan dana pendidikan anak. Invest yang dibutuhkan adalah Rp.1.5jt per bulan untuk dana dari TK – kuliah. Di bulan November, penghasilan menurun sehingga hanya bisa berinvestasi sebesar Rp.500.000,- Di bulan Desember ada pembayaran untuk projek besar yang sudah dilakukan sebulan sebelumnya. Maka yang harus diinvestasikan adalah Rp.1jt (kekurangan dr bulan sebelumnya) + Rp.1.5jt (jatah invest bulan Desember) = Rp.2.5jt

Lumpsum : Investor menaruh dana langsung penuh di awal. Biasanya investor ini yang memang punya modal besar dan tidak ingin diribedkan dengan investasi rutin.

Kelemahan dari lumpsum adalah investor hanya mendapatkan satu harga saja instead of beberapa harga seperti DCA ataupun VCA.

Lihat contoh di bawah ini (klik untuk memperbesar)

Dengan DCA, investor bisa mendapatkan beberapa harga (bisa rendah dan bisa tinggi) dan jumlah unit yang berbeda – beda sedangkan lumpsum hanya mendapatkan satu harga . At the end DCA memberikan return yang lebih dari lumpsum (Kecuali di skenario ini lumpsumnya didapat di harga yang paling rendah banget dibanding bulan2 lainnya which is untung-untungan kalau bisa dapet harga terendah)

 Contoh Lumpsum : Ibu Sylvi ingin memiliki dana sebesar 5M untuk mengambil franchise brand terkenal 15 tahun lagi. Dengan menempatkan dana di reksadana saham yang memberikan return rata-rata 25% per tahun, maka Ibu Sylvi cukup menanamkan lumpsum modalnya sebesar Rp.176.000.000,-

Even contoh lumpsum diatas, gw saranin sih 176jt tetap dipecah menjadi beberapa bulan . Misalnya bulan Januari 50jt, bulan feb 60jt, bulan maret 66jt. Jadi harganya tetap bisa bervariasi.

Apapun pilihan cara berinvestasi, yang penting sih invest aja disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kenyamanan dalam bertransaksi.

Kalau ada pertanyaan, bisa langsung di web ini atau di dini@fin-ally.com yah

Terima Kasih

Loads of Love,

Dini

Farah Dini
An Independent financial advisor who loves to help other people in achieving their goals. In love with financial planning world and have a goal to share the beauty of investing money for the future.
posts 136
words/post 683
media 295
comments 209
visits 143053
16 comments
  • shinta
    Nov 15, 2012 (13:20)

    Mba Din,
    ?DCA itu ?:)ŠÂ?? gak dgn produk yg ditawarin bank atau asuransi yg qt cicil uang tiap blnnya dlm jk wkt tertentu tp hasilnya sudah ditentukan brp2nya.ada skemanya gt?
    Mhon pjelasannya.tq

    • Farah Dini
      Nov 15, 2012 (16:24)

      Bukan mba, yang ini pure investasi, tidak ada embel2 asuransi. Kalau ada asuransinya berarti unitlink. Biaya – biaya yang terkandung di dalamnya lebih besar dibanding kita invest di reksadana langsung dgn sistem seperti yang aku jelaskan di atas.

      Memang dicicil setiap bulan, tapi uangnya tidak 100% untuk investasi karena ada porsi untuk asuransi juga.

      Lebih baik beli investasi terpisah . Minta kepada bank untuk beli reksadana saja dan tidak menggunakan asuransi.

  • thuns
    Mar 11, 2013 (06:48)

    sy sgt awam mslh reksadana, tp sepertinya harus segera memulai investasi di RD ini.
    ada saran rujukan invest dmn yg bagus utk pemula mbak?
    mgkin yg relatif lbh stabil dan aman aja.
    makasih 🙂

  • Panji
    May 21, 2013 (20:57)

    Kalau bagi saya teknik DCA ini kurang begitu efektif apalagi di saat market sedang bullish seperti sekarang, saya pribadi ga makai teknik ini.
    Buat pemula mungkin bisa memulai di Reksadana Pendapatan Tetap, namun bila profil resikonya berani sih mending memang langsung di reksadana saham.

    • Farah Dini
      May 21, 2013 (21:43)

      Hi mas Panji,

      Salam kenal ya 🙂

      Sebenarnya untuk teknik tergantung dari kondisi keuangan each individu dan kenyamanan dalam bertransaksi. Aku pribadi ada yang memang DCA, ada yang full langsung di awal dan ada juga liat timing.

      Untuk sebagian orang yang susah disiplin, DCA adalah salah satu cara supaya uangnya ga lari kemana – mana hehehe.

      Mas Panji sendiri menggunakan teknik seperti apa?maybe bisa di share juga sekalian supaya di baca temen – temen 😀

  • mpee
    Dec 17, 2013 (02:46)

    baguuuus banget mba blog-nya!! =))
    keren bgt buat yg buta financial planning seperti saya… di up-date terus ya mbaa =)

  • widodo
    Jun 01, 2014 (14:17)

    Siang Mbak Dini,

    Saya cek di infovesta, banyak Reksadana saham yang return yang tidak memuaskan, bahkan yang minus walau udah 5thn. Boleh rekomen sebaiknya pilih Reksadana yang mn? Untuk pensiun 13th lagi. Makasih

    • Farah Dini
      Jun 06, 2014 (13:44)

      Hello mas Widodo,

      Humm perusahaan sekuritas manakah yang dilihat?

      Karena seharusnya kalau diliat2 sekarang sih lagi pada naik.

      Pilih perusahaan sekuritas dan produk yang sudah lama di market dan memang terbukti perform.

      Mas Widodo cek ke website – website perusahaan sekuritas yang dikenal dan download Fund Fact Sheet

  • silaariyani
    Aug 22, 2014 (10:00)

    mba, sy mo ikut reksadana di salah satu bank pemerintah, hrgnya perlembar 100rb, itu gmn yach ?tq.

    • Farah Dini
      Aug 22, 2014 (23:31)

      maksudnya minimum pembeliannya Rp.100rb yah? reksadana tok doank kan mbak? gaa ada embel2 asuransi? autodebet yah?

  • maulyda
    Dec 27, 2014 (08:55)

    Salam mba din.. klo sy mo mli invest di ORI,SUkuk n reksadana bank cabang kabupaten menyediakan ga ya?m

    • Farah Dini
      Jan 14, 2015 (08:22)

      Coba cari di bank bank besar mrk biasanya jadi agen penjual reksadana 🙂

  • Corry
    Mar 15, 2016 (16:06)

    Dear Mba Dini,

    Sejak baca bukunya, sekarang gw terbebas dari hutang. Alhamdulillah …
    thanks a lot buat informasi n buku nya …

    Btw, gw penasaran banget sama investasi Reksadana ini, sempet dateng ke salah satu Bank besar di kota gw.
    tapi kayaknya gw belum ngerti deh model investasi ini, hehe.

    Bisa kasih contoh gak ya, kira2 Bank atau sekuritas apa yang kira2 menjamin investasi qta gak bakal turun

    Cheers,

    Corry

  • afria tika
    Apr 11, 2016 (21:08)

    Dear mb dini..
    Bagi mahasiswi kira-kira bagaimana kiat2 untuk memulai invest di reksadana? trims

  • Mary
    Sep 22, 2016 (15:40)

    Tolong tanya, pernah membandingkan ngga, investasi reksadana misalnya, dan asuransi murni, atau yang digabung investasi dengan asuransi semacam unit link tersebut. Belakangan saya lihat model begitu banyak, tetapi banyak yang tidak jelas berapa uang yang dipotong untuk asuransi di depannya, belum ada biaya akuisisi dsb yang tidak dijelaskan didepan, sehingga hasilnya uang yang diharapkan untuk berkembang malah diawal sudah dipotong biaya akuisisi yang tidak jelas kemana larinya selain ke perusahaan asuransi tersebut, sehingga uang nya tidak berkembang, malah sudah disimpan bertahun-tahun masih tetap minus. Dan kadang jeleknya, saat diminta rincian berapa biaya2 yang sudah dipotong dsb, tidak bisa diberikan dengan berbagai alasan.

    Saya lihat perkembangan unit link juga tidak sebanding dengan pergerakan IHSG misalnya, jadi kurang dapat dipertanggungjawabkan ?

    Terima kasih sebelumnya atas advicenya

    • Farah Dini
      Sep 23, 2016 (17:55)

      Hai mbak

      Kalau mau investasi langsung di produk investasi untuk lebih maksimal
      mau asuransi, pilih asuransi murni supaya coverage dan premi nya worth it.

      tp bukan berarti unit link ga bagus ya tergantung mba beli untuk tujuan apa dulu. Kalau ngejar return, langsung ke produk investasi saja tanpa asuransi 🙂 . Mau yang ngejar IHSG banget? langsung ke saham

Leave a Comment

Name*
Email*
Website